Template Tools
heizwock - banner

S P A C E   I K L A N
djarieschool.com

Pasang Iklan disini?Advert2

Check Our WebPlayer - Radio Here!

You are here:
Siaran Berdua yang Bagus

This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it : Cara bikin "duet penyiar" yang bagus.

Ini sebenernya udah sempet aku bahas tahun lalu, tapi karena bukan dlm rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it maka kita bahas mendalam sekalian sekarang. Apalagi krn sekarang anggota milis penyiar.com udah hampir 1500, jadi kita perdalam lagi.

Kenapa Dua Penyiar?

Pertama-tama, nggak ada satupun acara di radio maupun di TV yang mutlak membutuhkan penyiar lebih dari satu. Nanti kalo aku bikin buku bisa banyak dicela di "forum resensi buku", tapi ini khan cuma di kalangan tertentu aja... Tapi beneran deh, coba pikirin, apa sih acara yang wajib punya dua penyiar?


Paling2 formatnya satu penyiar dan satu narasumber. Nggak perlu dua penyiar utk mengatakan satu hal yang sama karena faktor overload komunikasi akan mengakibatkan kegagalan interaksi itu sendiri. Perlu satu penyiar utk memancing jawaban (dan mewakili pendengar/pemirsanya), dan perlu satu narasumber utk menyampaikan satu opini tertentu. Lagian ini bertentangan dengan kaedah berinteraksi yg efektif, yaitu one-on-one. Kalo di pesta sih bisa kita ngobrol berempat & rebutan karena berlangsung lebih dari 5 menit dan nggak berusaha menghibur siapa2.

Trus, kalo mau narasumbernya dua, ya harus dua opini yang berbeda, misalnya satu pro-aborsi dan satunya lagi anti-aborsi. Atau 4 narasumber yang menambah kekayaan pembahasan bagi pemirsa, misalnya topik kerukunan umat beragama dengan narasumber dari Islam, Nasrani, Hindu dan Buddha. Inipun harus dibuat catatan bahwa 4 orang membahas satu topik hanya efektif kalo hasilnya adalah menambah kaya pembahasan.

Tapi penyiar khan bukan narasumber, dan dia hanya jembatan dari satu pertanyaan ke pertanyaan lainnya. Atau penyiar berfungsi menjembatani antara pemirsa/pendengar dengan narasumbernya. TV newsanchor juga bukan narasumber, karena dia bertugas menjadi anchor for all those reporters & correspondents yang bertugas di lapangan.

Inilah alasannnya kenapa para pemuda/pemudi (jadul banget istilahnya!) jaman sekarang pada gak sukses jadi reporter/presenter di news TV : karena cita2nya hanya untuk "tampil" dan bukan utk "jurnalistik/pelaporan". Hayo... ngaku deh yang ngerasa begitu... Sedangkan para News Manager (kalo gak salah nih) masih orang2 news dan jurnalistik banget.

Jadi sebelum kita terusin pembahasan di This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it , kita harus kritis dulu sama diri sendiri. Penyiar bukan narasumber. Nggak percaya? Lihat aja Oprah, Ellen, dan Kris Biantoro Show (yang beberapa tahun yg lalu). Mereka punya nama besar dan dikontrak... tapi teuteup bukan mereka yang jadi narasumber. Tentu mereka bisa bicara 5 menit ttg hal tertentu, tapi sifatnya hanya menceritakan suatu kejadian. Dan akhirnya kenapa gak lebih dari 5 menit si tiga org kondang itu bicara? Dan diterusin ke diskusi dengan narasumbernya? Karena sifat dari "show" adalah menarik utk banyak org dg content & presentation yang variatif & menarik : "variasi" berarti bukan Kris Biantoro terus yang bicara, dan "menarik" berarti mendatangkan pakar2 di bidangnya.

Para peserta This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it pasti inget aku ngomong begini : "Penyiar ngomong sendiri di depan pendengar/pemirsanya pasti gak lebih dari 60 detik. Setelah itu harus masuk ke lagu/video, atau loncat ke reporter atau ke narasumber supaya pemirsanya gak bosen. Kalo mau bicara 15 menit sendirian di TV/Radio, jadilah ustad/pendeta di kuliah subuh, atau jadilah Presiden menyampaikan Pidato Pertanggungjawaban." Aa Gym juga waktu di puncak karirnya terpaksa menerima kenyataan bahwa setiap 15menit harus distop acaranya utk masuk ke iklan. Bukan karena Aa tau bahwa honornya dari iklan, tapi ya memang social contract dari televisi adalah adanya iklan supaya para pemirsa gak perlu bayar sepeserpun.


Ngomong Banyakan atau Ngomong Kebanyakan?

Karena di Indonesia udah kebiasaan pasang penyiar "banyakan" (rame2) untuk acara2 tertentu, kita bisa munculkan di sini pro dan kontranya.

Ini alasan klasik ttg kenapa harus pake penyiar banyakan:

  1. Biar seru aja.
  2. Karena kita bisa bayar dua penyiar, bahkan lebih!
  3. Adlibs-nya banyak, bow!
  4. Mmm... abis radio lain juga pada gitu!
Sekarang kita berikan counter-argument satu-persatu :

Ad.1:
Serunya sebuah acara khan tergantung orangnya, bukan "jumlah" orangnya. Dari Rick Dees sampe Robin Williams sampe Marcel Marceau... udah membuktikan bahwa "seru" adalah cap yang diberikan oleh pendengar/pemirsa, bukan suatu nilai yang dicekokin dari produsernya. Mo Sidik dan Sogi di Bandung bisa siaran sendirian seru berjam-jam (atau itu karena kangen siaran?). Dave Hendrik dan Ivy Batuta di Indika-FM udah terlanjur dikenal siarannya berdua, tapi sbg penyiar profesional mereka (dan kita semua) harus bisa tetep keren menghibur kalo cuma sendirian.

Ad.2:
Ada PD yang ngaku, berhubung gak bisa bayar penyiar/entertainer yang hebat & mahal akhirnya pake dua penyiar yang lebih murah. Jadi kualitas program udah dikorbanin khan? Ini terasa di radio2 daerah, yg terbiasa dg ketoprak dan sandiwara rakyat jadi merasa bahwa "more is better"... padahal beda lho karena kalo nonton pertunjukan tradisional khan audience-nya memperhatikan banget, nggak spt radio di mana yg ngedengerin lagi ronda atau sambil jualan di warung. Dan banyaknya penyiar khan nggak menjamin kualitas program.

Ad. 3:
Emangnya adlibs tsb mau dibaca sambung-menyambung menjadi satu? Kasih jeda dong supaya pendengar tau transisi antara adlibs-nya, bukan cuma diganti penyiar yang menyampaikannya. Kalo aku yang jadi pengiklan sih bakalan marah kalo setelah adlibku dibaca sama si penyiar cowok trus si penyiar cewek langsung nimpalin, "Trus kalo pendengar kebetulan punya panu yang gak ilang2, bisa nih pake salep merk...".

Ad. 4:
Loe gak tau khan kenapa radio2 lain pada otomatis pake penyiar banyak? Ini sih kebiasaan aja di Indonesia dan radio2 pada latah menirunya, tapi memang ada sejarahnya. Alkisah di jaman radio belum tersaingi sama TV dan SMS, para penyiar itu laksana dewa-dewi dg para pendengar yg fanatik banget. Jadi kalo misalnya di morning show, gak cukup cuma menampilkan satu penyiar nya karena favoritnya pendengar khan banyak. Jadi semua penyiarnya harus on-air minimal 5 kali seminggu utk memuaskan kebutuhan para pendengar. Karena blocking waktunya cuma 4-6 prog seharian, jadi deh satu prog harus bisa menampung beberapa penyiar. Belum lagi jaman dulu itu penyiar radio jadi profesi sekaligus hobi (dan lebih banyak penyiar daripada jumlah radio)... jadi para penyiar suka tiba2 dateng ke studio ikutan siaran, dan para pendengar (termasuk aku sendiri) kesenengan waktu penyiar favoritnya tau2 siaran juga! Hal ini masih tersisa di radio dangdut dan radio2 daerah. Kata "Fans" khan berasal dari kata "fanatics".


Siarannya lucu juga, tapi bentar ya gue bales SMS ini dulu...

So, jaman sekarang di kota besar yang orang2 pada sibuk... berapa jam Anda dengerin radio per hari? Dan itupun "sekilas" atau "intens"? Tahu nama 7 penyiar di radio kesayangan Anda? Makanya, ada banyak faktor kenapa jaman sekarang kita TIDAK perlu pasang penyiar "banyakan" :
  1. Pendengar udah gak terlalu hafal lagi jadwal acara seminggu di radio Anda, apalagi nama seluruh 14 penyiar radio Anda tsb.
  2. Pendengar sekarang punya banyak pilihan stasiun kalo dia mau dengerin radionya. Ada radio jazz, ada radio lalu-lintas dg lagu, ada radio lalu-lintas dg lagu basa-basi,... dst.
  3. Pendengar sekarang bisa dengerin radio kalo lagi nggak ada radio... alias radio di HPnya atau di internet kalo dia sedang online. (baca: pilihan semakin banyak lagi)
  4. Pendengar bisa dapetin semua yang dia butuhin dari radio di sumber2 lainnya: majalah, TV, internet, apalagi kalo dia pasang TV di mobil atau bisa nginternet di HPnya... Aku di sini juga jadi "terpaksa" dengerin internet radio yg pilihannya lebih banyak daripada radio siaran. Di Yahoo aja kita bisa pilih audio streaming dari 100 radio internet yang mewakili 20 genre musik. Malah kita bisa pilih yang download speed-nya sesuai dengan sambungan internet kita. Itu padahal baru dari satu website.
  5. Dan yang paling penting : Pendengar gak punya banyak kesempatan utk dengerin (apalagi bener2 memperhatikan) radionya.
Contoh nih : Seorang pendengar bisa pasang radio Anda sepanjang 4 jam durasi morning show dalam perjalanan dia dari Kedoya (Jakarta Barat) sampe ke Klender (Jakarta Timur), tapi selama 240 menit itu intensitas pendengaran dia ke radio Anda minim banget berhubung perhatiannya tersita karena :
  • Menerima SMS sebanyak 19 kali, termasuk satu SPAM, dua dari Debt Collector, dan 4 dari selingkuhannya.
  • Mengirim SMS sebanyak 12 kali, termasuk 4 kepada selingkuhannya, tiga utk clientnya utk "minta maaf terlambat karena macet!" dan satu untuk AE baru di bagian Sales utk nanya "ngopi yuk ntar sore?".
  • Menerima telfon yg penting dan gak penting, sebanyak 6 kali.
  • Menelfon, yang kalo hidupnya tergantung pada jualan MLM aja bisa sampe 8x per jam.
  • Hampir nyenggol mobil lain sebanyak 3 kali...
  • Hampir disenggol oleh taxi/bis/bajaj sebanyak 7 kali.
Jadi berhubung perhatiannya dia minimal banget... penting gak sih berapa penyiar yang dipasang? Waktu thn 70an dan 80an orang2 intense lho dengerin radio, entah itu siaran pagi maupun siang apalagi malem, karena utk bener2 memecah perhatian seorang pendengar radio kita harus dateng ke kamarnya dan ngetok pintunya. Tapi jaman sekarang di mana radio gak lagi jadi primadona? Makanya aku suka kasihan sama Anda yang cita2nya hanya jadi penyiar radio... Kenapa gak bercita2 jadi entertainer? Terus kita liat aja upaya Anda ini akhirnya membawa Anda ke mana: radio, TV, MC, Voiceover, atau jadi Sales Staff yang handal?


When is Two better than One?

Kalo pake contohku tadi ttg penyiar2 kondang semua di acara yg di-tunggu2 pendengarnya, aku jadi inget prog TIKUS (bener gak ya spelling-nya?) di HRFM Jkt 98/99. Ada Tika dan Yosi dll dari P-Project yang lagi kondang2nya dan HRFM juga lagi naik daun. Tokoh2 itu muncul karena dikenal publik secara umum, di luar pendengar rutin radio tsb, jadi dasar pemikirannya adalah utk "memperluas demografi pendengar" dari radio tsb. Dari sini juga bisa kita ambil kaedah rumpiwati: kalo penyiar tandem Anda cuma bicara bergantian dan gak berkesan rumpi, pasti keliatannya garing. Lihat aja di Trans-TV waktu transisi dari Jelang Sore ke berita sorenya: kepanjangan dan berkesan sandiwara (nggak tulus).

Contoh gak sukses penyiar berduaan juga banyak koq. Waktu thn 1994 di FeMale Radio Jkt ada bos bernama Hany Soemadipradja (the best manager for an Adult Contemporary radio station) yang ngusulin supaya acara Minggu pagi menampilkan Eko dan Myra Junor. Pertimbangannya karena Myra muncul di TV enam kali sehari (jadi menarik utk pendengar yang nggak terbiasa dengerin radio tsb) dan berhubung suami-istri maka harusnya cocok juga dong on-air... Ternyata, Myra itu nggak pandai ngecapiwati (karena penyiar TV khan terbiasa membaca naskah) dan kemesraan mereka di rumah bukanlah sesuatu yang bisa direpro di studio siaran. (utk Boy Hamidy: salamin ya utk Ibu Hanny dari kita berdua...)

Ini membawa kita ke masalah "chemistry", karena banyak juga penyiar yang sebenernya nggak kelop tapi akhirnya bisa cocok on-air. Ini muncul dari empat teorema dasar :
  1. Penyiar harus bisa selalu tampil dg enjoy, apapun kepribadian audience/narasumber/penyiar yang sedang dihadapi (termasuk musuhan sama pasangan siarannya).
  2. Penyiar profesional bisa dan mau tampil berdua/rame2 dengan penyiar lainnya tanpa ngeluh dan tetep bisa sukses.
  3. Prioritas nomor satu adalah kenikmatan pendengar, bukan harga diri penyiar2nya.
  4. Gabungan dari dua penyiar itu harus lebih baik dari siaran mereka sendiri2.
Aku jadi inget penyiar GMHR di HRFM Surabaya: Ivan Arbani dan Meity. Mereka bersaing merebut hati pendengar dan sering siaran dlm kondisi musuhan, tapi mereka tau bahwa together on-air they make a good team. Dan tentu mereka ingin tetap mempertahankan reputasinya sebagai MC pilihan nomor wahid di Surabaya; dengan kata lain kalo mereka sampe keliatan gak cocok on-air maka mereka akan diganti dg penyiar junior, lalu "harga" mereka di kalangan MC di Sby akan menurun. Alhasil mereka siaran bersama selama bertahun-tahun.

Hukum networking ini akhirnya berlaku sebaliknya : HRFM bisa pamer bahwa mereka punya dua entertainer top di Sby sbg penyiarnya. Stasiun2 radio yang melarang penyiar2nya mencari nama/pengalaman/nafkah di luar radionya akhirnya punya crew penyiar yang nggak dikenal publik. Rugi khan kalo dibandingin radio2 lain yang penyiar2nya pada kondang dan dikenal bisa menghibur?

Selanjutnya kalo radionya dan programnya sukses karena dukungan marketing yang kuat (spt Cosmopolitan Jkt di thn2 pertama) maka para penyiarnya akan mengusahakan sendiri chemistry di antara mereka. Kewajiban rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ini utk mengingatkan bahwa teguran dari Station Manager nggak akan se-efektif motivasi dari penyiarnya sendiri.


Satu ditambah satu harus bernilai dua!

Para pendengar pasti pernah menangkap kesan begini : koq program ini sama aja sih kualitasnya, entah penyiarnya sendiri atau berdua? American Idol juga kalo Ryan Seacrest ditemenin sama, misalnya Jessica Alba? Bukan hanya akan mengurangi greget sang penyiar dlm fungsinya "menjembatani" pemirsa, tapi juga bicaranya jadi ngobrol basa-basi. Inilah yang aku maksud dg 1+1=2. Kalo nilai kumulatif dari pengalaman dan jiwa entertaining si dua penyiar itu nggak menghasilkan suatu program yang lebih keren dari siaran mereka sendiri2, maka itu menjadi indikator bahwa siarannya gak perlu dua penyiar. Atau harus dicobain dengan pasangan baru.

Ngomong2, satu peran Ryan itu kalo di Indonesia jadi kebawa-bawa jadi dua penyiar juga. Ata dulu juga curhat waktu pertama tampil di Indonesian Idol, terus aku bilangin dua hal:
  • Jangan kufur nikmat setelah dipilih jadi Ryan Seacrest-nya Indonesia, walaupun tugas itu diemban berdua.
  • Penyiar handal harus bisa keren tampil dg siapapun co-host nya, walaupun Ata sendiri merasa berat.
  • Siapa tau malah elo yang kelak didrop... Jadi buktikan kepada dunia bahwa Ata lebih bagus dari partnernya, supaya dia yg diganti.
Kesannya kejam kalo ngedrop penyiar (yg sebenernya bagus) hanya karena alesan gak cocok sama pasangannya, tapi para penyiar harus mengerti bahwa para manajer radio itu harus mencari kombinasi mana di antara penyiar2nya yang BISA dan MAU kelop. Apalagi kalo para pengiklan (atau yang punya stasiun TV) memang mintanya berduaan. Dasarnya pemikirannya sih biasanya demografi lagi, yaitu audience/pemirsa khan laki dan perempuan maka penyiarnya juga harus mewakili mereka.

Walaupun ada pemirsa perempuan yang lebih suka ngeliat dua penyiar perempuan daripada misalnya host perempuan dan Olga, ini hanya mengingatkan kita bahwa semua itu kembali ke selera pasar dan keberhasilan menghibur: kalo acaranya bagus menurut pemirsa (berdasarkan survei beneran yg dibuat secara internal, bukan dari jualannya Nielsen) ya udah jalanin aja komposisi yg disukai audience tsb (cewek-cewek, cowok-cowok, atau cewek-cowok). Anda pasti tau khan acara otomotif yang hostnya dua cewek  yang pake baju mmmm... kekecilan itu? Padahal, beberapa tahun yang lalu acara2 male-oriented ada yg pembawa acaranya 2 cowok, misalnya Harsya atau Daddo.

Contoh klasik program cewek-cowok tentunya Ida & Krisna Show, yang kualitasnya jauh lebih baik daripada kalo Ida Arimurti siaran sendirian atau Krisna Purwana siaran sendirian. Yg cewek bisa aja ambil peran akrab dan ceria (baca: feminin) dan yang cowok bisa aja mengimbanginya dg peran datar dan serius; dalam hal ini Krisna bisa berrfungsi menjadi jokester justru karena gaya ngomongnya yang sebenernya monoton.

Betapa siaran berdua itu harus ringkas (supaya nggak lebih garing dari siaran sendiri) terbukti di acara2 yang nggak live. Waktu tahun 1994 aku beruntung dipercaya oleh Prambors utk siaran berdua Novi Suherman utk acara The Music Show utk sindikasi di 32 kota. Waktu itu Meuthia Kasim dan Asri Poeraatmadja udah punya acaranya sindikasinya sendiri2 spt Rick Dees, jadi Novi yg relatif baru lalu terpilih utk bawain acara sindikasi baru. Awalnya2 Novi juga heran koq dipasangin sama Eko yg pendiam, tapi begitu dia tau "sisi gila" partnernya akhirnya dia "rela" nerima penyiar ex-Bandung ini.  Kita juga banyak tukar-pikiran ttg ramuan bicara yang pas supaya ringkas tapi tetap ada infonya.

Ada unsur penting di sini : 1) kalo penyiar udah rela dipasangin sama partnernya barulah dia bisa enjoy dan tampil maksimal, dan 2) semua penyiar prog itu harus bisa memunculkan kemampuan maksimalnya untuk menjamin hasil 1+1=2 itu. Jadi rela dulu siaran berdua baru bisa maksimal. Bahwa Eko & Novi ini ternyata saling melengkapi (rame & diem, nyablak & datar) adalah sesuatu yang kita baru nyadar beberapa bulan kemudian, karena yang penting adalah "rela & usaha" dulu.

Ini juga sering dijadiin alesan kenapa "harus" ada dua penyiar: supaya ada positif dan negatif (utk saling melengkapi) atawa dua perspektif kalo lagi membahas topik. Di rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ini khan kita boleh kritis, jadi aku mau bertanya lagi : emangnya penyiar yang jadi narasumbernya? Hanya kalo AA Gym jadi host acara religius atau Rudy Choirudin jadi host acara memasak. Semua yang di luar itu, penyiar hanya berfungsi sbg pengantar informasinya aja, dengan bobot kerjanya ada pada reporter dan tim liputan.

Pendengar & pemirsa Indonesia kayanya juga udah capppe dech lihat "sandiwara" di program prime time di mana satu penyiar ceritanya ambil posisi kiri dan penyiar satunya lagi mengambil posisi kanan. A: "Kalo menurut gue sih sah2 aja."... B: "Tapi gue yakin gak semua orang sependapat sama elo". Atau formatnya sok menjembatani dua program tapi jadi kepanjangan. X: "Hi Prabu, ada berita apa utk kita sore ini?"... Y: "Iya nih, ada perkembangan terbaru dari...". Sepuluh tahun dari sekarang, radio dan televisi di Indonesia akan grow-up dan lebih mirip broadcasting di Amerika (yg memang usia showbiz-nya lebih tua) yang ringkas dan gak dibuat-buat (tapi lebih senyum daripada Bayu SCTV).

Shahnaz Haque misalnya sbg public figure bisa berada "di luar" cetakan penyiar spt pasangan siarannya, Gilang Pambudi, dan menambah kesan celebritas. Tapi apakah ini dirasa oleh semua pendengarnya? Mungkin aja ada yg merasa Shahnaz mau jadi penyiar radio karena Delta Siesta disiarkan di 22 kota dan waktu itu karirnya sedang masuk fase pasca-kondang. Yang pasti, Delta Siesta adalah contoh prog di mana semua mendapat manfaat : penyiarnya, radionya, pendengarnya, dan tentu juga pengiklannya.

Jadi kalo para Program Director tetep ngotot kepingin membuat program dg dua penyiar, bisa bikin checklist begini :
  • Two is better than one? Kalo sama aja atau malah lebih ancurrr dari siaran mereka sendiri2, ya cepetan cari kombinasi penyiar yang lain.
  • Gantian ngomong atau saling melengkapi? Kalo kesannya cuma gantian menyampaikan kalimat, mendingan sendiri aja deh supaya pendengarnya nggak pusing liatnya pindah ngomong setiap 5 detik. Upayakan agar berkesan saling nimpalin & melengkapi. Rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it berani menulis di sini bahwa more hosts require more of the audience's attention. Padahal spt udah kita bahas tadi, justru perhatian audience sekarang lebih susah didapetin.
  • Carrot & Stick? Apa insentif yg bisa diberikan kepada penyiar2 yg siaran tandem tsb supaya termotivasi (dari diri sendiri) utk improve siarannya? Honor khusus utk prog prime-time? Merchandise dari sponsor aja bisa jadi carrot yang kuat utk membuat penyiar melupakan pasangan siarannya yang menyebalkan. Kalo fungsi stick-nya lebih gampang : setelah menawarkan iming2 tadi dan ternyata penyiarnya masih gak bisa menunjukkan kekompakan di udara, bilang aja akan dicariin pengganti. Tujuan radio/tv khan bukan utk nyenengin penyiarnya, tapi audience-nya: kalo manajemen merasa audience-nya gak dipuasin, keputusan harus cepet diambil.
  • Contoh prog lain yang siaran berdua dan menurut Anda bagus? Tapi karena masing2 radio itu unik, maka susah banget nih nyari kompetitor  Anda yang bisa dijadiin contoh. Ini yang disebut benchmarking : menetapkan satu patokan yang harus dikejar, kalo perlu dibedah sampe ketauan resepnya.
  • Feedback dari sumber yang netral? Ini bisa dari pengiklan tapi lebih baik dari pendengar. Kalo pengiklan ngotot maksain suatu program toh akhirnya dia sendiri nanti yang kehilangan pendengar. Pada intinya si feedback ini menjadi pertimbangan obyektif untuk melengkapi raport (pertimbangan subyektif) yang dibuat Prog Director ttg acara tsb.

Because Less (penyiar) is More (attention)

Aku akan menutup rubik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ini dengan kembali ke hakikat seorang penyiar. Kenapa satu penyiar bisa jauh lebih efektif daripada dua/lebih?
  1. Pendengar tinggal mencerna apa yang disampaikan, dan nggak perlu pusing memperhatikan siapa yang ngomong apa.
  2. Semua penyiar pesaing Anda memperebutkan pendengar di kota tsb, dan itu aja udah masalah dg sendirinya. Kalo para penyiar Anda di studio juga ikut2an "memperbutkan mic" akhirnya hilanglah pesan yang disampaikan, apalagi kesan ngerumpinya yg dinikmati pendengar.
Pasti ada beberapa Prog Director yang protes dan berkata bahwa sebuah acara itu harus berdua/bertiga supaya menarik. Aku menanggapinya : acara yang mana? Lenong Rumpi yang kondang waktu GSM belum muncul di Indonesia?
Wayang kulit dan Friends dan CSI? Acara2 itu bisa memunculkan banyak "bintang" karena penontonnya terpaku di tempat dan nggak sambil masak atau nyetir atau baca buku; dan acara2 tsb berlangsung lama/sering dan disimak dengan konsen setiap kali muncul sampe ke setiap kata2nya. Pokoknya semakin sedikit penyiarnya (terutama utk radio), semakin besar acara itu (dan penyiarnya) akan mendapat perhatian audience. Coba angkat tangan, berapa di antara Anda yang merasa bahwa dua sidekick-nya Tukul malah ngerusak flow acara tsb? I agree.

Inilah pembahasan di rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it tentang program yang penyiarnya ada dua. Silahkan ambil kesimpulan Anda sendiri, karena pro dan kontranya (beserta contoh2nya) sudah disampaikan. Semoga bermanfaat untuk para Prog Dir dalam meningkatkan program, dan untuk para penyiar untuk meningkatkan kemampuan dan motivasi diri.

Sincerely,

Eko Junor
----------------

[dari Moderator : - kirimkan pertanyaan Anda ke milis ini atau ke e-mail " This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ".
- saat mengutip materi ini, sebutkan Penyiar.com sebagai sumbernya.
- plagiat akan dibantah dengan bukti tanggal, bahwa materi ini tampil lebih dulu di mailing list Penyiar.com.]

 
< Prev   Next >

Testimonial

LUFTI Prambors Bdg.Siapa bilang jadi penyiar radio itu gampang?? U’ll need a lot of practice!! DJ Arie dengan kurikulum 100% practice-nya bisa ngebantuin loe jadi seorang penyiar radio even ur a starter...n it works for me! n I bet it will works 4 u too guys!
DJ_ARIE SCHOOL
Offline