| Siaran Berdua yang Bagus |
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it : Cara bikin "duet penyiar" yang bagus.Ini sebenernya udah sempet aku bahas tahun lalu, tapi karena bukan dlm rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it maka kita bahas mendalam sekalian sekarang. Apalagi krn sekarang anggota milis penyiar.com udah hampir 1500, jadi kita perdalam lagi.Kenapa Dua Penyiar?Pertama-tama, nggak ada satupun acara di radio maupun di TV yang mutlak membutuhkan penyiar lebih dari satu. Nanti kalo aku bikin buku bisa banyak dicela di "forum resensi buku", tapi ini khan cuma di kalangan tertentu aja... Tapi beneran deh, coba pikirin, apa sih acara yang wajib punya dua penyiar?
Ngomong Banyakan atau Ngomong Kebanyakan?Karena di Indonesia udah kebiasaan pasang penyiar "banyakan" (rame2) untuk acara2 tertentu, kita bisa munculkan di sini pro dan kontranya.
Ad.1: Serunya sebuah acara khan tergantung orangnya, bukan "jumlah" orangnya. Dari Rick Dees sampe Robin Williams sampe Marcel Marceau... udah membuktikan bahwa "seru" adalah cap yang diberikan oleh pendengar/pemirsa, bukan suatu nilai yang dicekokin dari produsernya. Mo Sidik dan Sogi di Bandung bisa siaran sendirian seru berjam-jam (atau itu karena kangen siaran?). Dave Hendrik dan Ivy Batuta di Indika-FM udah terlanjur dikenal siarannya berdua, tapi sbg penyiar profesional mereka (dan kita semua) harus bisa tetep keren menghibur kalo cuma sendirian. Ad.2: Ada PD yang ngaku, berhubung gak bisa bayar penyiar/entertainer yang hebat & mahal akhirnya pake dua penyiar yang lebih murah. Jadi kualitas program udah dikorbanin khan? Ini terasa di radio2 daerah, yg terbiasa dg ketoprak dan sandiwara rakyat jadi merasa bahwa "more is better"... padahal beda lho karena kalo nonton pertunjukan tradisional khan audience-nya memperhatikan banget, nggak spt radio di mana yg ngedengerin lagi ronda atau sambil jualan di warung. Dan banyaknya penyiar khan nggak menjamin kualitas program. Ad. 3: Emangnya adlibs tsb mau dibaca sambung-menyambung menjadi satu? Kasih jeda dong supaya pendengar tau transisi antara adlibs-nya, bukan cuma diganti penyiar yang menyampaikannya. Kalo aku yang jadi pengiklan sih bakalan marah kalo setelah adlibku dibaca sama si penyiar cowok trus si penyiar cewek langsung nimpalin, "Trus kalo pendengar kebetulan punya panu yang gak ilang2, bisa nih pake salep merk...". Ad. 4: Loe gak tau khan kenapa radio2 lain pada otomatis pake penyiar banyak? Ini sih kebiasaan aja di Indonesia dan radio2 pada latah menirunya, tapi memang ada sejarahnya. Alkisah di jaman radio belum tersaingi sama TV dan SMS, para penyiar itu laksana dewa-dewi dg para pendengar yg fanatik banget. Jadi kalo misalnya di morning show, gak cukup cuma menampilkan satu penyiar nya karena favoritnya pendengar khan banyak. Jadi semua penyiarnya harus on-air minimal 5 kali seminggu utk memuaskan kebutuhan para pendengar. Karena blocking waktunya cuma 4-6 prog seharian, jadi deh satu prog harus bisa menampung beberapa penyiar. Belum lagi jaman dulu itu penyiar radio jadi profesi sekaligus hobi (dan lebih banyak penyiar daripada jumlah radio)... jadi para penyiar suka tiba2 dateng ke studio ikutan siaran, dan para pendengar (termasuk aku sendiri) kesenengan waktu penyiar favoritnya tau2 siaran juga! Hal ini masih tersisa di radio dangdut dan radio2 daerah. Kata "Fans" khan berasal dari kata "fanatics". Siarannya lucu juga, tapi bentar ya gue bales SMS ini dulu...So, jaman sekarang di kota besar yang orang2 pada sibuk... berapa jam Anda dengerin radio per hari? Dan itupun "sekilas" atau "intens"? Tahu nama 7 penyiar di radio kesayangan Anda? Makanya, ada banyak faktor kenapa jaman sekarang kita TIDAK perlu pasang penyiar "banyakan" :
When is Two better than One? Kalo pake contohku tadi ttg penyiar2 kondang semua di acara yg di-tunggu2 pendengarnya, aku jadi inget prog TIKUS (bener gak ya spelling-nya?) di HRFM Jkt 98/99. Ada Tika dan Yosi dll dari P-Project yang lagi kondang2nya dan HRFM juga lagi naik daun. Tokoh2 itu muncul karena dikenal publik secara umum, di luar pendengar rutin radio tsb, jadi dasar pemikirannya adalah utk "memperluas demografi pendengar" dari radio tsb. Dari sini juga bisa kita ambil kaedah rumpiwati: kalo penyiar tandem Anda cuma bicara bergantian dan gak berkesan rumpi, pasti keliatannya garing. Lihat aja di Trans-TV waktu transisi dari Jelang Sore ke berita sorenya: kepanjangan dan berkesan sandiwara (nggak tulus). Contoh gak sukses penyiar berduaan juga banyak koq. Waktu thn 1994 di FeMale Radio Jkt ada bos bernama Hany Soemadipradja (the best manager for an Adult Contemporary radio station) yang ngusulin supaya acara Minggu pagi menampilkan Eko dan Myra Junor. Pertimbangannya karena Myra muncul di TV enam kali sehari (jadi menarik utk pendengar yang nggak terbiasa dengerin radio tsb) dan berhubung suami-istri maka harusnya cocok juga dong on-air... Ternyata, Myra itu nggak pandai ngecapiwati (karena penyiar TV khan terbiasa membaca naskah) dan kemesraan mereka di rumah bukanlah sesuatu yang bisa direpro di studio siaran. (utk Boy Hamidy: salamin ya utk Ibu Hanny dari kita berdua...) Ini membawa kita ke masalah "chemistry", karena banyak juga penyiar yang sebenernya nggak kelop tapi akhirnya bisa cocok on-air. Ini muncul dari empat teorema dasar :
Aku jadi inget penyiar GMHR di HRFM Surabaya: Ivan Arbani dan Meity. Mereka bersaing merebut hati pendengar dan sering siaran dlm kondisi musuhan, tapi mereka tau bahwa together on-air they make a good team. Dan tentu mereka ingin tetap mempertahankan reputasinya sebagai MC pilihan nomor wahid di Surabaya; dengan kata lain kalo mereka sampe keliatan gak cocok on-air maka mereka akan diganti dg penyiar junior, lalu "harga" mereka di kalangan MC di Sby akan menurun. Alhasil mereka siaran bersama selama bertahun-tahun.Hukum networking ini akhirnya berlaku sebaliknya : HRFM bisa pamer bahwa mereka punya dua entertainer top di Sby sbg penyiarnya. Stasiun2 radio yang melarang penyiar2nya mencari nama/pengalaman/nafkah di luar radionya akhirnya punya crew penyiar yang nggak dikenal publik. Rugi khan kalo dibandingin radio2 lain yang penyiar2nya pada kondang dan dikenal bisa menghibur? Selanjutnya kalo radionya dan programnya sukses karena dukungan marketing yang kuat (spt Cosmopolitan Jkt di thn2 pertama) maka para penyiarnya akan mengusahakan sendiri chemistry di antara mereka. Kewajiban rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ini utk mengingatkan bahwa teguran dari Station Manager nggak akan se-efektif motivasi dari penyiarnya sendiri. Satu ditambah satu harus bernilai dua! Para pendengar pasti pernah menangkap kesan begini : koq program ini sama aja sih kualitasnya, entah penyiarnya sendiri atau berdua? American Idol juga kalo Ryan Seacrest ditemenin sama, misalnya Jessica Alba? Bukan hanya akan mengurangi greget sang penyiar dlm fungsinya "menjembatani" pemirsa, tapi juga bicaranya jadi ngobrol basa-basi. Inilah yang aku maksud dg 1+1=2. Kalo nilai kumulatif dari pengalaman dan jiwa entertaining si dua penyiar itu nggak menghasilkan suatu program yang lebih keren dari siaran mereka sendiri2, maka itu menjadi indikator bahwa siarannya gak perlu dua penyiar. Atau harus dicobain dengan pasangan baru. Ngomong2, satu peran Ryan itu kalo di Indonesia jadi kebawa-bawa jadi dua penyiar juga. Ata dulu juga curhat waktu pertama tampil di Indonesian Idol, terus aku bilangin dua hal:
Walaupun ada pemirsa perempuan yang lebih suka ngeliat dua penyiar perempuan daripada misalnya host perempuan dan Olga, ini hanya mengingatkan kita bahwa semua itu kembali ke selera pasar dan keberhasilan menghibur: kalo acaranya bagus menurut pemirsa (berdasarkan survei beneran yg dibuat secara internal, bukan dari jualannya Nielsen) ya udah jalanin aja komposisi yg disukai audience tsb (cewek-cewek, cowok-cowok, atau cewek-cowok). Anda pasti tau khan acara otomotif yang hostnya dua cewek yang pake baju mmmm... kekecilan itu? Padahal, beberapa tahun yang lalu acara2 male-oriented ada yg pembawa acaranya 2 cowok, misalnya Harsya atau Daddo. Contoh klasik program cewek-cowok tentunya Ida & Krisna Show, yang kualitasnya jauh lebih baik daripada kalo Ida Arimurti siaran sendirian atau Krisna Purwana siaran sendirian. Yg cewek bisa aja ambil peran akrab dan ceria (baca: feminin) dan yang cowok bisa aja mengimbanginya dg peran datar dan serius; dalam hal ini Krisna bisa berrfungsi menjadi jokester justru karena gaya ngomongnya yang sebenernya monoton. Betapa siaran berdua itu harus ringkas (supaya nggak lebih garing dari siaran sendiri) terbukti di acara2 yang nggak live. Waktu tahun 1994 aku beruntung dipercaya oleh Prambors utk siaran berdua Novi Suherman utk acara The Music Show utk sindikasi di 32 kota. Waktu itu Meuthia Kasim dan Asri Poeraatmadja udah punya acaranya sindikasinya sendiri2 spt Rick Dees, jadi Novi yg relatif baru lalu terpilih utk bawain acara sindikasi baru. Awalnya2 Novi juga heran koq dipasangin sama Eko yg pendiam, tapi begitu dia tau "sisi gila" partnernya akhirnya dia "rela" nerima penyiar ex-Bandung ini. Kita juga banyak tukar-pikiran ttg ramuan bicara yang pas supaya ringkas tapi tetap ada infonya. Ada unsur penting di sini : 1) kalo penyiar udah rela dipasangin sama partnernya barulah dia bisa enjoy dan tampil maksimal, dan 2) semua penyiar prog itu harus bisa memunculkan kemampuan maksimalnya untuk menjamin hasil 1+1=2 itu. Jadi rela dulu siaran berdua baru bisa maksimal. Bahwa Eko & Novi ini ternyata saling melengkapi (rame & diem, nyablak & datar) adalah sesuatu yang kita baru nyadar beberapa bulan kemudian, karena yang penting adalah "rela & usaha" dulu. Ini juga sering dijadiin alesan kenapa "harus" ada dua penyiar: supaya ada positif dan negatif (utk saling melengkapi) atawa dua perspektif kalo lagi membahas topik. Di rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ini khan kita boleh kritis, jadi aku mau bertanya lagi : emangnya penyiar yang jadi narasumbernya? Hanya kalo AA Gym jadi host acara religius atau Rudy Choirudin jadi host acara memasak. Semua yang di luar itu, penyiar hanya berfungsi sbg pengantar informasinya aja, dengan bobot kerjanya ada pada reporter dan tim liputan. Pendengar & pemirsa Indonesia kayanya juga udah capppe dech lihat "sandiwara" di program prime time di mana satu penyiar ceritanya ambil posisi kiri dan penyiar satunya lagi mengambil posisi kanan. A: "Kalo menurut gue sih sah2 aja."... B: "Tapi gue yakin gak semua orang sependapat sama elo". Atau formatnya sok menjembatani dua program tapi jadi kepanjangan. X: "Hi Prabu, ada berita apa utk kita sore ini?"... Y: "Iya nih, ada perkembangan terbaru dari...". Sepuluh tahun dari sekarang, radio dan televisi di Indonesia akan grow-up dan lebih mirip broadcasting di Amerika (yg memang usia showbiz-nya lebih tua) yang ringkas dan gak dibuat-buat (tapi lebih senyum daripada Bayu SCTV). Shahnaz Haque misalnya sbg public figure bisa berada "di luar" cetakan penyiar spt pasangan siarannya, Gilang Pambudi, dan menambah kesan celebritas. Tapi apakah ini dirasa oleh semua pendengarnya? Mungkin aja ada yg merasa Shahnaz mau jadi penyiar radio karena Delta Siesta disiarkan di 22 kota dan waktu itu karirnya sedang masuk fase pasca-kondang. Yang pasti, Delta Siesta adalah contoh prog di mana semua mendapat manfaat : penyiarnya, radionya, pendengarnya, dan tentu juga pengiklannya. Jadi kalo para Program Director tetep ngotot kepingin membuat program dg dua penyiar, bisa bikin checklist begini :
Because Less (penyiar) is More (attention) Aku akan menutup rubik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ini dengan kembali ke hakikat seorang penyiar. Kenapa satu penyiar bisa jauh lebih efektif daripada dua/lebih?
Pasti ada beberapa Prog Director yang protes dan berkata bahwa sebuah acara itu harus berdua/bertiga supaya menarik. Aku menanggapinya : acara yang mana? Lenong Rumpi yang kondang waktu GSM belum muncul di Indonesia?
Wayang kulit dan Friends dan CSI? Acara2 itu bisa memunculkan banyak "bintang" karena penontonnya terpaku di tempat dan nggak sambil masak atau nyetir atau baca buku; dan acara2 tsb berlangsung lama/sering dan disimak dengan konsen setiap kali muncul sampe ke setiap kata2nya. Pokoknya semakin sedikit penyiarnya (terutama utk radio), semakin besar acara itu (dan penyiarnya) akan mendapat perhatian audience. Coba angkat tangan, berapa di antara Anda yang merasa bahwa dua sidekick-nya Tukul malah ngerusak flow acara tsb? I agree. Inilah pembahasan di rubrik This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it tentang program yang penyiarnya ada dua. Silahkan ambil kesimpulan Anda sendiri, karena pro dan kontranya (beserta contoh2nya) sudah disampaikan. Semoga bermanfaat untuk para Prog Dir dalam meningkatkan program, dan untuk para penyiar untuk meningkatkan kemampuan dan motivasi diri. Sincerely, Eko Junor ---------------- [dari Moderator : - kirimkan pertanyaan Anda ke milis ini atau ke e-mail "
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
". |
| < Prev | Next > |
|---|